Tsunami diperkirakan beberapa kali lebih besar dari yang melanda Aceh enam tahun silam. Menggulung hingga radius 2 kilometer. Namun syukurlah, tsunami yang ini mengarah ke samudera lepas. Ahli paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Danny Hilman Natawidjaya, Oktober 2009, melansir keberadaan seismic gap di selatan Mentawai ini. "Dari hasil kalkulasi kami, gempa 2007 hanya melepaskan tidak lebih dari sepertiga jumlah energi tekanan tektonik yang terakumulasi di Mentawai," kata Danny. Dengan kata lain, ujar Danny, masih ada sekitar dua pertiga lagi yang tersimpan. Apabila yang dua pertiga ini meluncur sekaligus maka bisa menghasilkan gempa dengan kekuatan sampai 8,8 skala Richter alias 30 kali lebih besar dari gempa 30 September 2009. Jika semua ramalam itu benar, maka akan terjadi pula kenaikan dan penurunan tanah. Gempa tahun 2007 mengakibatkan tinggi permukaan Pulau Sikakap di Kepulauan Mentawai naik hingga 70 centimeter. Sedangkan gempa besar yang terjadi akhir Oktober 2009 lalu, tidak menyebabkan perubahan tanah di kawasan itu. Namun gempa besar terakhir itu membuat tanah di pesisir Pantai Barat Sumbar turun hingga 25 cm. Prediksi gempa berkekuatan 9 skala Richter ini, menurut Ade yang juga Ketua Ikatan Ahli Geologi Sumbar itu, diperkirakan akan terjadi dalam rentang waktu 10 hingga 20 tahun ke depan. Celakanya, guncangan gempa di Sumatera Barat bukan cuma datang dari dasar laut. Tapi juga dari Patahan Sumatera, yang lebih sering disebut sebagai Patahan Semangka. Patahan itu menyimpan kekuatan gempa dengan daya rusak yang cukup besar. Di barat Sumatera itu, kata Ade, ada dua segmen yang berada di patahan Sumatera yang masih menyimpan energi berkekuatan 7,5 skala Richter yakni Segmen Sumpu (Pasaman Timur) dan Segmen Suliti (Muara Labuh-Alahan Panjang).
Perkokoh Bangunan
Selain rupa-rupa siaga itu, pemerintah juga mempersiapkan bangunan tahan gempa. Pemerintah Sumatera Barat kini tengah mempersiapkan Peraturan Daerah (Perda) soal bangunan ini. Terutama bangunan publik. Hingga kini Perda itu masih didiskusikan. Harmensyah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Barat, menyatakan bahwa Perda itu masih dikoordinasikan dengan Dinas Prasarana Jalan dan Pemukiman Sumatera Barat. "Mitigasi ini membutuhkan investasi. Setiap US$1 yang diinvestasikan akan menyelamatkan aset senilai US$4," kata Harmensyah. Bencana besar tidak bisa dihadapi dengan sikap responsif semata, butuh investasi untuk mengurangi dampaknya. Perda soal bangunan ini begitu penting, mengingat gempa September 2009 -- yang berkekuatan 7,9 skala Richter -- meruntuhkan sejumlah gedung yang awalnya disiapkan sebagai lokasi evakuasi bencana tsunami. Hotel Bumiminang dan Sentral Pasar Raya Padang justru tak sanggup menahan guncangan gempa. Padahal sudah disiapkan sebagai escape building. Pascagempa 2009, Walikota Padang Fauzi Bahar, berencana membangun 100 sekolah dan pasar sekaligus sebagai shelter yang mudah diakses warga. Semua shelter tersebut berada radius 1 km dari bibir pantai yang tersebar di tujuh kecamatan di Padang. Tapi memang biayanya cukup mahal. Membangun 100 unit sekolah shelter memerlukan Rp 670 miliar. Tapi uang sebesar itu harus dicari, sebab taruhannya terlalu mahal,keselamatan warga. Read More...


