TELEPON : 021 749-8780. MOBILE : 0812-1985-9687
Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 September 2010

Ini Dia Persiapan Sumatera Menghadapi Gempa

Sirene itu menghadap Samudera Hindia. Menjulang tinggi di Pasar Tiku. Berdiri tegak di antara kantor  Pak Camat dan pasar rakyat. Dikurung pagar lebih dari dua meter. Harga sirene itu juga menjulang. Satu miliar rupiah. Mahal karena dia adalah dewa pengingat. Para ahli menyebutnya alat Early Warning System. Warga di Tanjung Mutiara, Agam, Sumatera Barat itu, menyebutnya dengan nama yang membuat bulu kuduk meriang, Sirene Tsunami. Sirene itu menderu tiap tanggal 23. Bukan karena gempa. Tapi sekedar mencoba apakah si dewa pengingat ini masih bernafas. Jumat, 23 Juli ini sirene itu melengking. Warga sudah maklum. Ini sekedar uji coba. Selain tanggal "keramat" itu, sirene ini tak pernah dibunyikan. Bahkan ketika lindu menguncang pesisir barat Sumatera, 30 September 2009, sirene itu diam membisu. Tapi ribuan warga yang cemas tetap berlari mendaki bukit. Mereka ke sana, " Karena takut ada tsunami," kata Zulfaidar. Sebagaimana wilayah lain di barat Sumatera, daerah Tiku itu memang terbilang rawan lindu. Para ahli gempa melansir bahwa daerah pesisir barat itu tersusun oleh batuan sedimen berumur tersier, batuan vulkanik, dan aluvium berumur kuarter. Semua jenis itu memiliki sifat gampang lepas. Itulah yang memperparah efek gempa bumi. Menetap di atas zona merah itu, warga dan pemerintah selalu bersiaga. 

Petinggi di Sumatera Barat memasang enam sirene di seluruh wilayah. Di sebar di Padang, Kota Pariaman, Cimpago di Padang Pariaman, Sasak di Pariaman Barat, dan di kota Tiku itu. Alat sirene semahal itu cuma ada 12 di negeri ini. Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Sumatera Barat, Ade Edwar, menyebutkan bahwa enam alat lain ada di Nanggroe Aceh Darussalam. Lantaran peralatan yang serba terbatas itu, sinyal bahaya di Kepulauan Mentawai cuma datang dari lonceng gereja. Setiap gempa yang lebih dari 5 skala Richter, lonceng gereja selalu berdentang-dentang. Warga pun berlari ke bukit. Dentaman lonceng gereja itu cukup keras. Terdengar hingga radius satu kilometer.  "Kami tinggal berlari menyelamatkan diri ke bukit," kata Salaleubaja, seorang warga Mentawai. Menetap di atas tanah berbahaya, membuat pemerintah Mentawai juga sudah bersiaga.  Sesudah gempa  besar menguncang Aceh 2004 lalu, mereka membangun jalan beton menuju perbukitan. Jalan beton itu juga dibangun antar dusun. Ini adalah jalur evakuasi mendadak. 
Siaga begitu rupa, tampaknya memang belum cukup. Sebab bentangan bahaya di barat Sumatera itu sungguh luas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar berencana menerapkan teknologi gelombang radio. Gelombang radio itu terkoneksi ke sirene tsunami. Handy talky (HT),  yang  sudah dimodifikasi akan terkoneksi ke sejumlah masjid di pesisir pantai Sumatera Barat. Dengan cara itu diharapkan peringatan dini cepat sampai. Harga satu alat  diperkirakan Rp 20 juta hingga Rp50 juta. Sistem komunikasi darurat  seperti ini pertama di Indonesia. "Akan dibiayai APBN," kata Ade Edwar. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga akan memasang kamera CCTV di Tuapejat, Ibukota Mentawai. Bahaya dari Mentawai Bahaya itu dirilis pemerintah 16 Juli lalu. Kabupaten Mentawai, begitu bunyi rilis itu, menyimpan kekuatan gempa 9 skala Richter. Bahaya itu berdiam di Pulau Siberut dan Sipora, sebelah selatan Kepulauan Mentawai. Tingkat guncangan maksimal mencapai 0,5 kali gravitasi. ''Artinya, satu setengah kali lebih kuat dari gempa sebelumnya (7,9 SR)," ujar Ade Edwar. Bahaya itu diperkirakan menyebabkan gelombang tsunami. Sebab pusat gempa cukup dangkal. "Menurut sejumlah ahli, jika gempa berkekuatan sembilan skala Richter terjadi, arah timur Mentawai (Padang) akan dihantam tsunami setinggi satu hingga dua meter, " kata Ade.  Dengan gelombang setinggi itu, dia akan menyasar 637 dusun. Gelombang yang terbilang raksasa,  justru bergerak  ke arah barat Pulau Mentawai---Samudera Hindia. 
Tsunami diperkirakan beberapa kali lebih besar dari yang melanda Aceh enam tahun silam. Menggulung hingga radius 2 kilometer. Namun syukurlah, tsunami yang ini mengarah ke samudera lepas. Ahli paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Danny Hilman Natawidjaya, Oktober 2009, melansir keberadaan seismic gap di selatan Mentawai ini. "Dari hasil kalkulasi kami, gempa 2007 hanya melepaskan tidak lebih dari sepertiga jumlah energi tekanan tektonik yang terakumulasi di Mentawai," kata Danny. Dengan kata lain, ujar Danny, masih ada sekitar dua pertiga lagi yang tersimpan. Apabila yang dua pertiga ini meluncur sekaligus maka bisa menghasilkan gempa dengan kekuatan sampai 8,8 skala Richter alias 30 kali lebih besar dari gempa 30 September 2009. Jika semua ramalam itu benar, maka akan terjadi pula kenaikan dan penurunan tanah. Gempa tahun 2007 mengakibatkan tinggi permukaan Pulau Sikakap di Kepulauan Mentawai naik hingga 70 centimeter. Sedangkan gempa besar yang terjadi akhir Oktober 2009 lalu,  tidak menyebabkan perubahan tanah di kawasan itu. Namun gempa besar terakhir itu membuat tanah di pesisir Pantai Barat Sumbar turun hingga 25 cm. Prediksi gempa berkekuatan 9 skala Richter ini, menurut Ade yang juga Ketua Ikatan Ahli Geologi Sumbar itu, diperkirakan akan terjadi dalam rentang waktu 10 hingga 20 tahun ke depan. Celakanya,  guncangan gempa di Sumatera Barat  bukan cuma datang dari dasar laut. Tapi juga dari Patahan Sumatera, yang lebih sering disebut sebagai Patahan Semangka. Patahan itu menyimpan kekuatan gempa dengan daya rusak yang cukup besar. Di barat Sumatera itu, kata Ade, ada dua segmen yang berada di patahan Sumatera yang masih menyimpan energi berkekuatan 7,5 skala Richter yakni Segmen Sumpu (Pasaman Timur) dan Segmen Suliti (Muara Labuh-Alahan Panjang). 


Perkokoh Bangunan 
Selain rupa-rupa siaga itu, pemerintah juga mempersiapkan bangunan tahan gempa. Pemerintah Sumatera Barat kini tengah mempersiapkan Peraturan Daerah (Perda) soal bangunan ini. Terutama bangunan publik. Hingga kini Perda itu masih didiskusikan. Harmensyah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Barat, menyatakan  bahwa Perda itu masih dikoordinasikan dengan  Dinas Prasarana Jalan dan Pemukiman Sumatera Barat. "Mitigasi ini membutuhkan investasi. Setiap US$1 yang diinvestasikan akan menyelamatkan aset senilai US$4," kata Harmensyah. Bencana besar tidak bisa dihadapi dengan sikap responsif semata, butuh investasi untuk mengurangi dampaknya. Perda soal bangunan ini begitu penting, mengingat gempa September 2009 -- yang berkekuatan 7,9 skala Richter -- meruntuhkan sejumlah gedung yang awalnya disiapkan sebagai lokasi evakuasi bencana tsunami. Hotel Bumiminang dan Sentral Pasar Raya Padang justru tak sanggup menahan guncangan gempa. Padahal sudah disiapkan sebagai escape building.  Pascagempa 2009, Walikota Padang Fauzi Bahar,  berencana membangun 100 sekolah dan pasar sekaligus sebagai shelter yang mudah diakses warga. Semua shelter tersebut berada radius 1 km dari bibir pantai yang tersebar di tujuh kecamatan di Padang. Tapi memang biayanya cukup mahal. Membangun  100 unit sekolah shelter memerlukan Rp 670 miliar. Tapi uang sebesar itu harus dicari, sebab taruhannya terlalu mahal,keselamatan warga. 

Read More...

Sabtu, 04 September 2010

Gempa 8,9 SR Mengancam Bumi Andalas

Gempa berkekuatan 6,0 skala richter mengguncang Bengkulu dini hari tadi. Getarannya dirasakan hingga Padang, sehingga masyarakat di sana ikut panik. Ahli gempa dari LIPI, Prof Danny Hilman, menegaskan, teror gempa di wilayah Sumatera belum akan berakhir.

Sumatera, khususnya di wilayah Mentawai menyimpan energi yang memicu gempa 8,9 SR. Zona subduksi yang menyimpan energi besar itu berbeda 'tabungan' dari  gempa-gempa yang selama ini terjadi di Sumatera, seperti Nias, Bengkulu dan gempa Padang yang menewaskan hampir seribu orang itu pada September 2009 lalu.
"Baru sebagian (energinya) yang terlepas. Tahun 2007 lalu saat gempa terjadi di bagian selatan (Mentawai) hanya 1/3 yang terlepas, masih ada 2/3 lagi energi yang berpotensi memicu gempa 8,8 hingga 8,9 SR," kata Danny saat dihubungi VIVAnews, Sabtu 4 September 2010.

Danny sendiri tak bisa memperkirakan kapan energi itu akan terlepas, bisa sebulan atau bahkan puluhan tahun. "Tapi kalau melihat gejala hari ini (gempa Bengkulu), ancaman (gempa besar) di wilayah Sumatera makin tinggi," kata dia.

Dalam penjelasannya terkait potensi gempa Mentawai pada Juli 2010 lalu yang dimuat di laman youtube, Danny membeberkan, potensi gempa besar di Mentawai, Sumatera Barat ini sudah diteliti sejak tahun 1990. Penelitian dilakukan oleh sejumlah lembaga, termasuk LIPI yang bekerjasama dengan peneliti asing.

Secara garis besar, kata dia, ada dua metode yang dilakukan dalam penelitian berpuluh tahun itu, yakni metode geologi dan modern yang menggunakan alat-alat modern seperti global positioning system (GPS). GPS ini digunakan untuk memonitor pergerakan lempeng yang terkait proses gempa bumi.

Dari penelitian, katanya, secara historis, wilayah barat Sumatera memang banyak dilanda gempa besar. Pada 1993, misalnya gempa tercatat 8,4 SR. Di tahun 1833 pernah juga terjadi gempa dengan kekuatan 8,9 SR. "Jadi pernah terjadi gempa hampir 9 SR di barat Padang," katanya. Sementara di wilayah utara Sumatera, khususnya di Andaman, baru tercatat dua kali gempa.

Intensitas gempa di wilayah Sumatera pada 2000 semakin meningkat, seperti Bengkulu, Simelue, dan Andaman. Dan yang paling mengejutkan pada ilmuwan adalah gempa di Andaman pada 2004 lalu dengan kekuatan 9,15 SR. "Karena tidak ada historikalnya (gempa besar). Jadi historikal saja tidak cukup, dalam geologi harus ada data lain," kata dia.

Setelah rentetan gempa besar di Sumatera, mulai dari Aceh, Nias hingga Mentawai, menurut Danny, banyak yang menilai Padang sudah aman, artinya tidak akan ada gempa besar lagi.

Tetapi, dari penelitian yang dilakukannya bersama sejumlah lembaga lain, menunjukkan bahwa perhitungan tentang kandungan energi di Mentawai masih belum berimbang dibandingkan dengan gempa yang terjadi di sana pada 2007. "Energi yang terlepas, jauh lebih kecil hanya 1/3, artinya 2/3 masih tersimpan di sana, sampai sekarang," kata Danny.

Kondisi Sebelum Gempa
Gempa besar di Sumatera dari penelitian terjadi dalam periode 200 tahun sekali. Sekarang ini energi besar yang diperkirakan menjadi sumber gempa di Sumatera itu masih terkunci. Dari hitung-hitungan, jika lempeng yang terdesak ke Sumatera rata-rata 6 cm per tahun dalam tempo 200 tahun akan mencapai 12 meter. "Kalau dilepaskan itungannya hampir 9 SR," kata dia.

Dari penelitian selama 15 tahun diketahui pada abad 14 di Mentawai terjadi gempa besar dengan magnitude 9 SR. Gempa besar juga terjadi di abad 16 yang mengangkat pulau ini 1,2-1,5 meter. Namun dua gempa besar ini tidak tercatat dalam sejarah. Dua gempa besar ini diketahui lewat penelitian  terhadap batu karang yang punya kemampuan luar biasa merekam turun naiknya permukaan air laut.
Danny juga membeberkan, ada kondisi-kondisi tertentu sebelum terjadinya gempa besar. Contohnya, Pulau Siberut yang tenggelam secara perlahan-lahan. Namun usai gempa besar, pulau ini naik hingga tiga meter. Kondisi serupa terjadi di Nias tahun 2005 silam. Sementara daratan Padang kini mengalami penurunan 1 hingga 1,5 meter.

Read More...

Kamis, 20 Agustus 2009

Tips : Kemah keluarga

Saat ini kegiatan alam bebas sudah menjadi hal yang umum dan biasa bagi sebagian kalangan orang yang hidup di kota – kota besar sperti Jakarta dan sekitarnya. Mulai dari kegiatan outbound yang diadakan oleh kantor atau cuma sekedar kemping bersama keluarga untuk mengisi liburan anak – anak.

Berikut ini kami berikan tips – tips untuk Anda bagaimana cara mempersiapkan segala sesuatunya apabila suatu hari nanti Anda berkeinginan untuk mengajak keluarga Anda menikmati kegiatan berlibur dialam bebas atau kemping

Pertama harus Anda lakukan adalah menentukan lokasi untuk kegiatan tersebut. Dalam menentukan lokasi Anda harus melihat perbandingan – perbandingan antara lokasi yang satu dengan lokasi lainnya, mulai dari jarak tempuhnya sampai dengan fasilitas yang ada disana. Jarak tempuh itu sendiri bukan hanya ditentukan oleh jarak semata, namun keadaan jalan yang menuju kelokasi juga menentukan berapa lama kita bisa sampai kesana.Contoh, lokasi perkemahan di Kawasan Wisata Cangkuang, Cidahu – Sukabumi. Jarak tempuh normal dari Jakarta kurang lebih 3 jam perjalanan. Namun karena sebagian jalan menuju kelokasi lumayan rusak, jarak tersebut harus ditempuh selama kurang lebih 4 – 5 jam perjalanan Biasanya, apabila kita memilih berkemah diareal pantai, jalan atau akses kelokasi cenderung lebih bagus disbanding areal perkemahan yang berada dipegunungan. Setelah itu kita harus tahu fasilitas apa saja yang terdapat disana, apakah ada MCK-nya? apakah sudah ada asuransinya?. Karena kita ingin berkemah besama keluarga, otomatis factor keamanan lokasi jadi rujukan paling penting.

Kedua, persiapkan bahan makanan yang cepat saji namun mempunyai nilai kalori tinggi. Karena biasanya dilokasi perkemahan, anak – anak akan lebih banyak bergerak dibanding ketika berada dirumah. Mereka membutuhkan makanan dan minuman sehat yang dapat segera mengganti ion tubuh mereka yang terbuang. Selama ini banyak orang, hanya memikirkan mudahnya saja, ketika kemping banyak membawa bekal bahan makanan berupa mie instant saja. Jangan lupa, anda juga harus menyiapkan alat masak dan lainnya. Alat masak bisa berupa kompor gas portable atau Trangia, berbahan bakar spirtus.

Ketiga, persiapkan pakaian ganti berikut jaket dan yang lainnya yang berbahan menyerap keringat dan mudah kering. Jumlah pakaian ganti yang Anda bawa harus diperhitungkan dengan jelas, karena akan mempengaruhi beban bawaan Anda.

Keempat, persiapkan obat – obatan ringan, khususnya obat luar. Seperti Betadine, minyak tawon dan semacamnya.

Kelima, persiapkan peralatan kemping yang memadai. Seperti sleeping bag, tenda, matrass dan lentera sebagai alat penerangan. Untuk kemping keluarga disarankan menggunakan tenda jenis Dome Tent. Selain mudah pemasangannya, tenda jenis ini juga sangat ringan dibawa. Agar lebih nyaman, siapkan Sleeping Bag untuk tiap anggota keluarga ditiap tenda. Untuk memudahkan pergerakan dimalam hari, sperti mengantar anak – anak kekamar kecil atau lainnya, Anda harus menyiapkan senter yang cukup besar dan terang.

Demikian tips dari kami, semoga bermanfaat. Selamat menikmati aktifitas sambil mengenalkan alam pada keluarga Anda.

Read More...
Telepon : 021 749 - 8780. Mobile : 0812 - 1985 - 9687 outbound,penyelenggara outbound,outing,gathering,sarana petualang,arung jeram

Photobucket   

Saung GOA on Facebook
Berbagi di Facebook Bagikan